Batik Tulis

Secara sederhana, batik tulis adalah batik yang dihasilkan dengan proses lukis nya murni manual dengan menggunakan tangan yg menggambar diatas kain dasaran secara utuh.

Pewarnaannya pun bisa berkali-kali prosesnya, karena setelah peewarnaan pertama, biasanya kain tersebut akan dibatik lagi sesuai desain motif yg sudah ditulis dengan pensil sebelumnya.

Pembuatan batik tulis cukup memakan waktu dibandingkan dengan pembuatan batik cap atau batik printing.. karena proses membatik harus dilakukan satu per satu, tidak bisa dilakukan secara kolektif dalam waktu bersamaan.

Pasar batik tulis tradisional terbesar Indonesia ada di Pamekasan, Madura Jawa Timur. Pasar yang terletak di Pasar Batik 17 Agustus itu diantaranya hampir 100 persen menjual batik tulis, menjual berbagai macam keperluan batik, dan tempat berkumpulnya para  produsen batik mulai dari pedagang bahan baku, pewarna serta batik-batik setengah jadi.

Suasana Pasar Batik Pamekasan, Madura

Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga penting sekali bukti ini adalah kenyataan bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu. Detail ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detail pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Facebook Comments

No Comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.