Makna Filosofis Tenun Aceh

Foto: Pakaian Masyarakat Aceh Jaman Dulu. Sumber Foto: Dokumen Google

Perkembangan tenun Aceh dimulai oleh masyarakat yang mendiami wilayah Aceh Besar, Aceh Barat, Pidie dan Aceh Selatan. Wilayah ini pada masa lampau merupakan bandar yang ramai dan menjadi tempat persinggahan para saudagar dari manca negara seperti Arab, Persia, Turki, Cina, India, dan Siam.

Siem, Aceh Besar merupakan wilayah pertama yang mengembangkan tenun di Aceh. Sebelum itu, masyarakat Aceh tidak mengenal tenun. Masyarakat Aceh hanya berpakaian serba hitam.

Tenun Siem, terkenal karena memiliki berbagai variasi warna serta corak dan motif hiasnya yang atraktif. Jumlah motifnya lebih dari 50 dengan warna-warna cerah. Kain tenun Siem menggunakan bahan baku benang sutra sebagai bahan utama pembuat kain serta benang emas dan perak untuk membuat motif.

Tenun Songket Nyakmu, Penenun Songket Aceh di Siem

Motif tenun, diaplikasikan pada sehelai kain yang bukan hanya untuk hiasan, tapi juga mengandung makna yang filosofis. Ragam hias pada kain tenun juga menggambarkan keadaan lingkungan alam sekitar.

Di antara motif yang menarik adalah bungong kalimah (kaligrafi), bunga, buah, motif awan, tali air, dan geometris. Kaligrafi berisikan petikan ayat suci dari Al-quran, biasanya digunakan untuk selendang dan penutup kepala bagi perempuan.

Ada juga motif bunga delima. Falsafahnya menarik karena delima digambarkan sebagai salah satu buah yang ada di surga,

Motif lainnya, merupakan motif-motif yang melambangkan kehidupan duniawi seperti motif daun sirih, pucuk rebung dan lainnya.

Artikel rekomendasi: Senja Kala Songket Aceh

1 Comment

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.